BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Masalah

Permasalahan para pencari ilmu adalah tidak tercapainya manfaat dan buahnya ilmu, yaitu pengamalan dan penyebaran.

Hal ini disebabkan oleh kurangnya perhatian mereka dalam menempuh jalan mencari ilmu, mengabaikan syarat-syarat menuntut ilmu karena tidak adanya ketekunan dan keaktifan dalam mengkaji ilmu.

Pada kenyataannya, seberapa besar nafi’ dan muntafa’ bihnya ilmu yang diperoleh oleh tholib tergantung pada seberapa besar kadar faktor itu diupayakan, diayahi dan menghasilkan.

 

  1. Rumusan Pembahasan

Apa manfaat ketekunan dan keaktifan dalam mengkaji ilmu.

 

  1. Tujuan Pembahasan

Mengetahui maanfaat ketekunan dan keaktifan dalam mengkaji ilmu.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

MANFAAT ADANYA KETEKUNAN DAN KEAKTIFAN

DALAM MENGKAJI ILMU

 

  1. Manfaat Ketekunan Dalam Mengkaji Ilmu

Untuk mendefinisikan manfaat dari ketekunan mengkaji ilmu, pasti tidak lepas dari pembahasan mengenai belajar itu sendiri. Karena berbicara tentang manfaat buahnya ilmu, berarti membicarakan perolehan atau hasil dari kegiatan belajar.

Merupakan suatu keharusan bagi seorang pelajar untuk  bersungguh-sungguh, terus menerus dan tekun dalam mengkaji ilmu. Secara implisit firman Allah yang biasanya untuk mendalili orang muslim yang tidak perlu ragu terjun dalam perjuangan: “Walladzina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulanaa”, mengisyaratkan hal yang demikian itu.

Hal itu telah diisyaratkan dalam firman Allah yang artinya : “ Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (mendapatkan keridhaan-Ku dengan mencari ilmu) benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Q.S al-Ankabut: 69).

Di samping itu terdapat Hadits Nabawi yang menyatakan : “ Allah telah menjamin orang yang berjihad fisabilillah (dengan niat tidak keluar rumah kecuali hanya berjihad fisabilillah dan melaksanakan kalimah-Nya semata) akan memasukkannya kedalam surga, atau mengembalikannya ke tempat kediamannya beserta dengan apa yang didapatnya berupa pahala atau ghonimah. (Hadits Shahih).

Seseorang akan mendapatkan sesuatu yang dicarinya, sejauh usaha yang dilakukannya. Dalam menuntut ilmu dibutuhkan kesungguhan hati disertai ketekunan, tentu akan kesampaian apa yang diharapkan. Ketekunan itu dapat mendekatkan sesuatu yang jauh. Dan ketekunan itu bisa juga membuka pintu yang tertutup.

Di samping bersungguh-sungguh sebaiknya disertai dengan berdo’a kepada Allah dan merendahkan diri kepada-Nya. Sesungguhnya Allah akan mengabulkan orang yang berdo’a kepada-Nya dan tidak menolak orang yang berharap kepada-Nya.

Di antara tanda ilmu yang bermanfaat:

  1. Mengamalkannya.

“Ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah”

  1. Tidak suka sanjungan dan pujian serta tidak sombong terhadap orang lain.
  2. Engkau bertambah tawadhu’ (rendah diri) setiap kali bertambah ilmu.
  3. Menghindar dari suka pujian, terkenal dan dunia.
  4. Tidak mengaku punya ilmu.
  5. Berburuk sangka terhadap diri sendiri dan berbaik sangka               (Husnu-Dhan) terhadap orang lain.

 

Keberhasilan seseorang mendapat anugerah ilmu nafi’’ dan muntafa’ bih adalah karena melibatkan tiga faktor yang sangat dominan, yaitu: Pertama, Fadhol dari Allah, karena memang diajar oleh-Nya (alladzi ‘allama bil qolam. ‘Allamal insaana maa lam ya’lam). Untuk memperoleh fadhol ini, orang harus berdo’a atau dido’akan. Do’a itu harus sungguh-sungguh dan disertai ketekunan. Tidak boleh dipanjatkan dengan seenaknya dan mengesankan tidak begitu membutuhkan wushulnya do’a, dengan cara misalnya, disamping berdo’a orang juga berbuat maksiat, sama sekali tidak berusaha menghindar dari keharaman yang dilarang. Fa anna yustajaabuu lah.

 

  1. Manfaat Keaktifan Dalam Mengkaji Ilmu

Bagi orang yang mencari ilmu hendaknya aktif atau rutin dalam mengkaji ilmu serta mengulanginya setiap awal dan akhir malam, karena antara waktu Maghrib dan Isya’ serta waktu sahur adalah waktu yang penuh berkah.

Biasakanlah selalu belajar, dan janganlah mencoba untuk memisahkan (meninggalkan) belajar, karena ilmu itu (bergantung pada orangnya) bisa jadi tetap dan semakin bertambah dengan selalu dipelajari terus-menerus. Dengan rutin belajar dan jangan sampai meninggalkannya maka ilmu akan tertanam dan berkembang.

Sebaiknya pelajar berusaha untuk selalu giat dan aktif dalam mencari ilmu, bersungguh-sungguh dan rajin dengan cara menghayati keutamaan ilmu. Karena sesungguhnya ilmu itu abadi.

Tetapi sedapat mungkin jangan sampai membuat dirinya terlalu sengsara (memaksakan diri) dan membebaninya terlalu berat. Demikian pula jangan terlalu lemah, sehingga menjadi tidak mampu melakukan sesuatu untuk meningkatkan diri dalam belajar.

Rosululloh SAW. Bersabda: “ Ingatlah! Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang kuat dan kukuh. Maka dari itu, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh dan pelan-pelan. Janganlah engkau merasa jengkel atau marah untuk mengerjakan ibadah kepada Alloh SWT. Sebagaimana orang yang terkilir kakinya, sehingga terputus kekuatannya untuk berjalan jauh, dan ia tidak dapat memulihkan kembali (menjadi sehat).”

Maka dari itu dalam dalam mengkaji ilmu, kita harus berusaha untuk dapat memilih jalan tengah, yaitu dengan pelan-pelan (sederhana). Sebab, melakukan sesuatu dengan pelan-pelan adalah merupakan dasar pokok bagi segala sesuatu.

‘Barang siapa yang tidak mantap dalam ilmu dasar niscaya ia terhalang untuk sampai’ dan ‘barangsiapa yang mencari ilmu secara menyeluruh niscaya ia akan mendapatkannya secara menyeluruh’,

Dan atas dasar itulah maka harus memulai dari dasar bagi setiap bidang ilmu yang dituntut, dengan cara mencatat dasar dan kesimpulannya.

Firman Allah SWT:

وَقُرْءَانًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً

Dan al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (QS. al-Isra:106)

Sebagaimana Al-Qur’an yang telah diturunkan secara bertahap, maka dalam mencari ilmu hendaknya selalu bertahap, aktif dan terus menerus, supaya bisa mendapatkan manfaat ilmu.

BAB III

KESIMPULAN

 

–          Sebagai dasar (pokok) untuk memperoleh manfaat ilmu salah satunya adalah dengan ketekunan dan keaktifan dalam mengkaji ilmu.

–          Ketekunan itu dapat mendekatkan sesuatu yang jauh. Dan ketekunan itu bisa juga membuka pintu yang tertutup.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

Alhamdulillahirobbil’alamiin, kami penyusun panjatkan kehadirat Alloh SWT. yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini tanpa ada halangan yang berarti.

Penyusun ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga terselesainya makalah ini dan penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi sempurna makalah ini.

Dan akhirnya, kepada Alloh jualah penyusun memohon, semoga makalah ini bermanfaat bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Amin yaa robbal’alamiin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Asrori A Ma’ruf, 1996, Ta’lim al-Muta’allim Thariq al-Ta’allum. Surabaya:    Pelita Dunia.

Usman M. Ali dkk, 1989, Hadits Qudsi Pola Pemikiran Akhlak Muslim. Bandung:   CV. Diponegoro.

Al-qudsy Noor Aufa Shiddiq, Pedoman Belajar Pelajar Dan Santri. Surabaya :                     Al-Hidayah

Syekh Bakar bin Abdullah Abu, Muhtashor Hilyatu Thalibi Ilm, 1428 H. Diringkas oleh Muhammad bin Fahd bin Ibrahim al-Wad’an Riyadh.